09
Mei
08

Refleksi Live In

Sabtu, 19 April hingga 23 April 2008, kami anak-anak kelas 1 mengadakan kegiatan live in. Sebelum kegaitan itu berlangsung, kami di beri pembekalan terlebih dahulu. Barang yang kami bawa pun bisa dibilang sedikit dan sederhana, karena memang itulah tujuan live in, melatih kita untuk hidup sederhana. Hidup sederhana telah kami awali sejak keberangkatan live in, yaitu dengan menggunakan bus tanpa AC. Tapi tak apalah sekali-kali juga perlu mencoba pakai bus tanpa AC biar pernah merasakan juga panas dan pengapnya.hehehe…Sewaktu pertama kali masuk bus itu panas dan pengap sekali rasanya,tetapi lama kelamaan tidak terasa lagi. Sesampainya di sana, saya dan beberapa teman mendapat di desa Ngeposari, dan kami masih dibagi menjadi beberapa dusun.

Saya bersama teman sekamar saya, Silvia menempati keluarga Bapak Mujono. Pak mujono mempunyai seorang istri bernama Ibu Sutin, dan 2 orang anak yaitu Selly dan Amy. Pak Mujono sendiri telah berusia 41 tahun, Bu Sutin berusia 36 tahun, Anak mereka, Selly kelas 2 SMP dan Amy baru kelas 2 SD. Keluarga Pak Mujono bisa dibilang sudah berkecukupan. Semua kebutuhan keluarga tersebut sudah dapat di penuhi dengan baik dan mungkin tidak kekurangan. Walaupun begitu mereka hidup dalam kesederhaan.

Hari saat pertama live in saya lumayan deg – degan sebab sebelumnya saya belum pernah tinggal di desa. Selain itu saya juga harus jauh dari orang tua selama 5 hari. Ini merupakan pengalaman pertama kali saya live in. Sebelumnya saya sudah tanya pada kakak kelas, kebanyakan dari mereka berkata bahwa live in itu menyenangkan. Kegiatan selama live pun juga ternyata mengasyikan. Biasa yang saharí-harinya kita selalu berkutat pada pelajaran, belajar, membuat tugas, tetapi selama 5 hari tersebut kita bebas dari pelajaran. 5 hari tersebut saya gunakan dengan sebaik-baiknya untuk lebih mengenal alam, dan bersosialisai pada masyarakat di desa.

Pada hari pertama, ketika tiba di rumah Pak Mujono, saya dan Silvia berbincang-bincang dan mengenal lebih dalam lagi tentang keluarga Pak Mujono. Karena hari itu Pak Mujono sedang tidak membuat jipang, maka saya dan Silvia pergi ke tetangga sebelah untuk membantu membuat kue karamel. Hal ini tentunya menambah pengetahuan saya juga. Selain mengetahui cara membuat jipang saya juga mengetahui cara membuat kue karamel.

Hari kedua, pagi hari saya membantu Bu Sutin mengambil singkong. Singkong di ambil lagsung dari pohonnya dan kemudian direbus. Ini pengalaman yang menarik sebab baru pertama kalinya saya mengambil sendiri tanaman singkong kemudian di rebus untuk di makan. Setelah mandi, saya dan Silvia diajak pergi ke ladang. Ladangnya sangat luas, dan berbagai macam tanaman yang di tanam. Banyak penduduk yang sedang bekerja meskipun panas matahari menyengat tubuh mereka, mereka tidak peduli. Saya yakin, mereka pasti bekerja keras demi mencukupi kebutuhan keluarga mereka. Kemudian saya teringat pada orangtua saya. Mereka juga bekerja keras demi keluarga dan juga saya. Walau pun kadang saya kurang mensyukuri usaha mereka. Pengalaman inilah yang membuat saya sadar untuk lebih mensyukuri dan menghargai usaha keras kedua orangtua saya. Pulangnya saya membantu kedua orangtua saya membuat jipang. Sorenya saya dan teman-teman berkumpul di kapel untuk membersihkan kapel. Kami bergotong royong membersihkan halaman kapel. Sungguh menyenangkan dapat berkumpul bersama, pekerjaan yang berat pun menjadi ringan

Hari ketiga, seperti biasa, saya dan Silvia bangun kemudian membantu pekerjaan orang tua asuh saya, membuat jipang. Sambil membuat kamipun saling berbagi pengalaman, cerita-cerita, bercanda tawa. Hal ini menambah suasana keakraban antara kami. Ketika sudah selesai membuat jipang saya dan Silvia istirahat sebentar. Kemudian kami jalan-jalan di sekitar rumah. Kami pun mampir ke rumah orang tuanya Jesse dan Nuke. Di sana saya diajak ke ladang untuk mencari pakan ternak. Ini juga pengalaman saya pertama kali mencari pakan ternak. Saya dan teman-teman membubuti tanaman jagung. Di ladang kami berkotor-kotor ria walaupun banyak serangga-serangga kecil. Pulangnya pun kami duduk di mobil dengan tumpukan tanaman jagung. Semua ini sangat menyenangkan, apalagi ketika kita dapat membantu orang lain.

Hari keempat, ini adalah hari terakhir saya di desa Ngeposari sebab besok saya sudah harus pulang, kembali ke Semarang. Bangun pagi saya pergi jalan pagi dengan teman-teman. Hari ini Pak Mujono tidak membuat jipang karena hari ini adalah hari pasaran. Jadi jipang-jipang yang sudah dibuat hari ini dikirim ke pasar-pasar untuk dijual. Pagi hari jam 07.30 saya dan teman-teman pergi ke sekolah TK Theresia. Pengennya sih cuma melihat kegiatan belajar mengajar di Tk tersebut. Tapi ternyata Bu Guru mengajak kami masuk dan akhirnya kami pun mengikuti kegiatan belajar mengajar. Pertama kali saya tidak tahu bahwa ruangan yang berada di samping halaman kapel adalah sebuah sekolah. Saya dan teman-teman mengira itu adalah sebuah gudang selain itu juga tidak ada palang yang menunjukkan bahwa itu adalah sekolah TK. Ternyata murid di TK tersebut hanya ada 4 dan 1 guru yang mengajar. Selain itu hanya ada 1 ruangan, padahal 2 orang anak adalah murid TK besar sedangkan 2 orang anak lagi murid TK kecil. Tetapi kelas mereka di gabung menjadi satu. Mereka balajar dengan tekun. Saya dan teman-teman sangat senang mengajar di TK tersebut. Pengalaman yang paling mengesankan dan tak terlupakan. Setelah mengajar saya dan teman-teman pergi ke sungai di dekat desa tersebut. Air di sungai lumayan jernih. Di sana kami bermain-main air hingga badan kami basah kuyub. Tapi kami tertawa senang, gembira. Menyenangkan sekali. Sorenya diadakan pertemuan mudika. Saya dan teman-teman datang semua, sayangnya mudika sana hanya beberapa orang saja yang datang. Katanya mereka malu, saya jadi bingung, apanya yang malu..? Entahlah, biarpun begitu pertemuan mudika tetap berjalan. Kami semua berdiskusi dan saling bertukar pendapat, sharing pengalaman, kesan dan pesan mereka terhadap saya dan teman-teman saya. Hal ini tentunya dapat menjadi masukan-masukan untuk saya dan teman-teman.

Hari terakhir kami di desa Ngeposari pun tiba. Berat rasanya meinggalkan desa Ngeposari, rasanya saya masih ingin tinggal di sana. Tetapi kami harus pulang ke Semarang. Terakhir perpisahan saya dan teman-teman banyak yang menangis, penduduk sana juga banyak yang menangis, memang berat meninggalkan desa tersebut, mereka sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Pulangnya kami mampir di kota Wonosari untuk mengikuti misa di gereja sana. Selesai misa kamipun kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Semarang. Tak sabar saya pulang untuk menceritakan pengalaman-pengalaman yang saya alami ketika live in di desa.

Saya sangat senang dapat bersekolah di Loyola, salah satu alasannya karena Loyola mengadakan kegitan Live in. Tidak semua sekolah mengadakan kegiatan live-in. Kegiatan live sungguh bermanfaat bagi saya. Melalui live in saya berlatih hidup sederhana, bersosialisasi dengan penduduk desa, merasakan bagimana suka duka hidup di desa yang fasilitasnya masih terbatas. Di desa saya juga belajar banyak hal, mendapat banyak pengalaman baru yang belum tentu bisa saya dapatkan di kota. Saya belajar membuat jipang, kue karamel, belajar bagaimana keluarga asuh saya yang hidup dalam kesederhanaan tapi masih tetap bersyukur atas segala yang Tuhan berikan. Saya pun menjadi malu sendiri sebab saya suka protes dan tidak bersyukur terhadap pemberian Tuhan.

Di desa saya belajar untuk lebih menghargai alam. Udara di desa masih sejuk, walaupun siang hari tetapi udaranya terasa sejuk karena banyak pepohonan. Sedangkan di kota…. sekarang sulit untuk menemukan pepohonan yang rindang. Orang-orang lebih suka berlomba untuk membangun bangunan yang mewah, megah, daripada menanam pepohonan. Mereka tega menebang pepohonan hanya untuk keegoisan mereka. Dan akibatnya terjadi Global Warming. Itu akibat keserakahan dan keegoisan mereka. Yah.. itulah perbedaan orang kota dan desa. Selain itu saya juga dapat melihat, bermain di sungai yang airnya masih jernih. Di kota sudah tidak ada lagi sungai, kalaupun ada pasti sudah tercemar oleh kotoran dan sampah. Saya dapat melihat pematang sawah dan ladang yang hijau, pemandangan yang indah yang tidak saya dapatkan di kota. Inilah yang membuat saya sadar dan berusaha untuk lebih menghargai alam. Sebab kita tidak dapat hidup tanpa alam.

Melalui kegiatan live in saya juga menjadi dekat dengan teman-teman yang lain. Sebelum live in saya tidak begitu mengenali mereka, tetapi ketika live in saya menjadi mengenal dan dekat dengan mereka. Membina pertemanan dengan banyak orang itu sungguh menyenangkan. Kita dapat saling membantu, dapat berbagi kesenangan dan kegembiraan. Saya juga dapat mengenal penduduk-penduduk di desa. Mengenal kepribadian mereka yang ramah tamah, hidup dalam kesederhanaan tetapi tetap selalu bersyukur, dan juga selalu tolong menolong tanpa pamrih. Kegiatan live in mengajarkan saya banyak hal yang belum pernah saya ketahui atau saya coba sebelumnya.

Yah…! Live in itu menyenangkan. Itulah kesimpulan saya. Saya senang akan kegiatan live in ini. Kegiatan live in banyak membawa pengaruh bagi saya. Saya menjadi lebih menghargai usaha keras orang tua saya, lebih menghargai dan mensyukuri pemberian Tuhan. Saya juga sadar bahwa kita harus menjaga alam ini. Dan yang terpenting saya juga belajar untuk menghargai hidup ini. Hidup yang diberikan Tuhan untuk kita syukuri dan kita jaga Hidup yang penuh perjuangan dan rintangan, tetapi bila kita mampu mengatasi semuanya dengan tabah dan pantang menyerah kita akan dapat mencapai kesusksesan. Dan setelah sukses dan menjadi orang yang berhasil kelak, saya tak akan lupa dan menyakiti orang-orang kecil. Sebab orang-orang seperti mereka juga berusaha untuk memperjuangkan hidup mereka. Yah.. melalui live in inilah saya belajar untuk menghargai orang-orang kecil.. Jadi apakah para koruptor dan orang-orang yang suka menindas rakyat kecil perlu mengikuti kegiatan live in juga ya? Supaya mereka lebih menghargai rakyat kecil. hehehe…

Iklan

5 Tanggapan to “Refleksi Live In”


  1. 1 christi
    Desember 20, 2008 pukul 8:23 am

    Hi, Alynluphpink

    Salam kenal. Kebetulan, saya juga diwajibkan mengikuti live-in dr sekolah, tapi bedanya saya diminta untuk mengajarkan penduduk di sana untuk membuka usaha kecil di bidang makanan. Saya sangat tertarik dengan produk jipang, dan ingin mencari tahu bagaimana membuatnya. Kalau nggak keberatan, boleh tolong jelasin bagaimana cara membuatnya? Thank you so much.

    Regards,
    Christi

  2. 2 arti
    Februari 27, 2011 pukul 4:26 am

    salam

    saya berminat dengan usaha jipang..
    jika berkenan saya minta diberi resep dan jelaskan pembuatanya
    ditnggu balasan di email marsbransd@rocketmail.com / 089636347708

    regards
    arti

  3. 3 Hasan Abas
    Desember 7, 2011 pukul 11:57 am

    saya mohon petunjuk membuat bepang atau jipang dari beras dan jagung


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


Mei 2008
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 3.900 hits

%d blogger menyukai ini: