Pengalaman live in merupakan pengalaman yang tak kan pernah aku lupakan. Banyak pelajaran dan nilai-nilai kehidupan yang aku dapatkan dari kegiatan ini. Semuanya akan terus terekam dalam memoriku. Melalui tulisan inilah aku ingin berbagi dengan kalian. Selama live in aku tinggal di Desa Ngeposari. Dengan teman sekamarku, Silvia, kami tinggal di keluarga Pak Mujono. Beliau, istri dan 2 orang anaknya menerima kami dengan tangan terbuka dan senang hati. Aku dan Silvia sering membantu Pak Mujono membuat jipang. Beliau adalah seorang pembuatan makanan jipang. Melalui jipang tersebut, beliau mencukupi kebutuhan keluarga sehingga asap di dapur dapat terus mengepul.
Pengalaman menarik aku alami ketika mengajar anak-anak TK. Ketika itu aku dan teman-teman iseng-iseng mengunjungi sebuah bangunan yang pertama kami kira itu gudang. Tetapi ternyata bukan! Itu adalah sebuah sekolah TK, TK Theresia. Sebuah Tk tanpa palang nama di mana seorang ibu guru mendidik hanya 4 orang anak. Yah.. murid di sekolah tersebut hanyalah 4 orang, 2 orang anak kelas TK besar dan 2 orang lagi TK kecil. Walaupun tingkatan mereka berbeda tetapi kelas mereka di gabung jadi satu. Mungkin alasannya karena muridnya terlalu sedikit, selain itu hanya ada satu guru dan satu ruangan. Biarpun begitu, dengan fasilitas yang terbatas, kegiatan belajar mengajar tersebut masih tetap berjalan.
Aku dan teman-teman diajak untuk ikut membantu mengajar. Inilah pengalaman pertamaku mengajar anak-anak. Aku dan teman-teman mengajari mereka menyanyi, membaca, dan berhitung. Anak-anak TK begitu senang dan antusias mengikutinya. Semangat mereka begitu membuatku terkagum-kagum. Dengan jumlah murid dan fasilitas yang seadanya, mereka tetap ceria dalam mengikuti pelajaran. Hal ini membuatku sadar, seharusnya aku juga seperti mereka, dengan fasilitas dan sekolah baik yang aku dapatkan, aku juga harus rajin belajar, tidak bermalas-malasan. Sebab, setidaknya aku masih lebih beruntung daripada mereka.
Menjadi guru ternyata bukan pekerjan yang gampang, butuh kesabaran dan ketelatenan, apalagi bila menghadapi anak-anak TK yang masih kecil dan nakal. Kulihat Bu Guru sangat sabar menghadapi murid-muridnya. Mengajari mereka hingga dapat membaca, menulis, berhitung, dan menyanyi. Ibu Guru juga tidak marah ketika seorang muridnya tidak sengaja melempar bola hingga mengenai kepalanya Anak tersebut hanya dapat tersenyum malu tanpa berniat untuk minta maaf. Aku dan teman-teman menyuruh anak itu untuk minta maaf. Ibu Guru pun hanya menyunggingkan senyum di bibirnya, menerima jabat tangan sang anak sambil berkata “ Jangan diulangi lagi ya, Nak.” Sungguh membuatku terharu, betapa mulianya seorang guru itu. Begitu lapang dadanya beliau dalam menghadapi murid-muridnya.Begitu tulus beliau mengajar dan menyayangi muri-muridnya. Itulah yang menyebabkan beliau di sebut pahlawsan tanpa tanda jasa.
Pengalaman ini benar-benar mengajariku banyak hal. Betapa susahnya seorang guru mengajari kita. Tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik agar murid-muridnya menjadi makhluk yang bermoral dan memiliki kepribadian yang indah. Mendidik murid-muridnya hingga dapat menggapai cita-cita mereka. Tersenyum puas dan bangga melihat anak didik mereka sukses, tanpa mengharapkan imbalan sedikit pun. Terima kasih untuk guru-guru yang telah mengajariku semua yang ada di dunia ini. Terima kasih karena kalian semua, aku dapat berdiri tegak di sini. Terima kasih karena telah mau menjadi orangtua sekaligus sahabat ku selama di sekolah.Terima kasih karena telah mengajariku apa itu ketulusan dan pengorbanan tanpa pamrih.
walah, dadi guru TK to lyn?
ngajar opo mang e?
wkwkwkwkkwkw